Cara Memilih Produk Untuk Bisnis Online (3)

Setelah di Postingan pertama &kedua Anda mempelajari tentang “jualan apa?”, sekarang kita masuk bagian 2, yaitu, “barangnya beli di mana?”

Saya akan cerita sederhana saja apa yang saya lakukan terkait hal ini.

Saya ada menjual produk fashion perempuan.

Kainnya, saya cari di Cipadu, Tangerang. Sebagian saya cari juga di Tamim, Bandung. Di sana ada banyak sekali variasi kain yang bagus-bagus. Kenapa saya beli di sini? Karena ini adalah sentra bahan baku kain.

Tapi ingat, Anda jangan asal beli. Pelajari dulu karakteristik market yang mau Anda masuki.

Cara mempelajarinya? Beli dulu kainnya sedikit.

Lalu buat pakaiannya di konveksi. Konveksi cari di mana? Anda bisa manfaatkan GOOGLE. Simpel saja. Biasanya di dekat sentra bahan baku, ada sentra produksi. Sediakan waktu seminggu untuk mengitari sentra bahan baku dan produksi. Saya melakukan hal ini.

  • Model jahitannya gimana?
  • Apa yang musti dikerjakan oleh konveksi tersebut?

Nah itulah PR Anda.

Cari di marketplace, model seperti apa yang lagi dicari. Proses ini membutuhkan intuisi. Semakin lama Anda mempelajarinya, akan makin terlihat sangat simpel.

Setelah jadi, jual langsung di FB Ads. Kalau hasilnya bagus, maka Anda bisa lanjutkan untuk membeli kain sejenis; baik jenis bahan ataupun pola.

Tapi ingat: kalau Anda beli kain eceran, ini stoknya terbatas. Karena sebetulnya kain yang Anda beli eceran itu adalah sisa produksi dari produk lain.

Jika Anda ingin kain dengan motif sendiri khusus milik Anda, maka kainnya harus cetak ke pabrik. Sekali cetak kira-kira membutuhkan budget di atas 100 juta. Kalau Anda baru pertama kali, tidak tahu apa-apa, saya sangat tidak menyarankan jalan ini.

Oke saya rekap ya berdasarkan urutan:

  1. Temukan dulu barang apa yang ingin Anda buat
  2. Temukan dimana Anda bisa membeli bahan bakunya
  3. Temukan kepada siapa Anda bisa membuatnya
  4. Buat dulu sedikit
  5. Iklankan di FB Ads
  6. Kalau laku, baru bikin agak banyak
  7. Makin laku lagi, baru bikin dengan ciri Anda sendiri

Tentang Dropship & Reseller

Lho mas, dropshipnya mana?

Hehehe.. Kalau Anda mau dropship dulu, silakan. Dulu saya juga dropship. Tapi setelah saya pikir, saya membuang umur. Dropship hanya mencetak saya menjadi pemasar. Tapi dengan saya produksi sendiri, mencetak saya menjadi pebisnis sekaligus pemasar. Lebih berat, tapi sumber daya waktu yang saya miliki lebih hemat.

Meski demikian, kalau modal Anda amat sangat cekak, boleh belajar dan mulai dengan menjadi reseller.

Caranya: Anda bisa amati iklan yang berseliweran di FB, lalu coba beli produk yang Anda suka.

Setelahnya, jika Anda klik dengan produknya, Anda bisa tanya ke mereka, bisa jadi reseller atau nggak?

Bergabunglah dengan mereka kalau ternyata mereka membuka program reseller. Saya dulu join banyak MLM karena mencari produk untuk dijual online.

Kalau nggak laku gimana?

Tidak ada yang pasti di dunia ini. Kalau nggak untung ya rugi. Tapi Anda bisa meminimalisir rugi yang terjadi.

Caranya:

Pertama, pastikan Anda mengerjakan hal yang Anda paham dan suka. Customer pertamanya HARUS DIRI ANDA SENDIRI DULU. Ini keliatan sepele. Tapi.. Ini sangat menentukan. Anda akan menemukan gairah dan kebebasan jika Anda menjual produk yang Anda suka.

Tidak perlu repot-repot menganalisa dengan Product Market Fit, karena kalau Anda suka, sudah otomatis FIT dengan Anda! Tinggal cari orang-orang sejenis Anda.

Kedua, perkecil skalanya. Mulai dari yang kecil. Jangan berusaha untuk mencari harga produksi termurah! Ini jebakan betmen!

Saya pernah kejeblos di sini. Karena mengejar harga termurah dari produsen, saya memproduksi 3 ribu pcs untuk harga per unit 100 ribu. Padahal saya bisa pesan hanya 300 pcs dengan harga Rp 120 ribu.

Setelah saya nyebur ke dalam market, apa yang saya bayangkan tidak sesuai kenyataan. Saya lupa kaidah “mulai dulu dari yang kecil.”

Akibatnya, saya rugi waktu, tenaga, pikiran, dan jelas.. biaya.

Jangan ulangi kesalahan saya. Dapat harga lebih mahal nggak apa-apa, yang penting laku dulu!

Kalau udah laku, maka otomatis Anda mau produksi dengan economies of scale juga berani dan akan ngeruk keuntungan lebih besar.

Ketiga, pastikan Anda punya skenario kalau produk yang akan Anda jual tersebut nggak laku.

Contoh skenario: kalau nggak laku dalam 1 bulan setelah saya iklankan dengan budget 3 juta, maka akan saya tutup, dan produknya akan saya jual di marketplace dengan harga lebih murah.

Contoh lain: kalau nggak laku, maka produk ini akan saya jadikan bonus di produk saya yang lain untuk meningkatkan konversi produk lain tersebut.

Contoh lagi: kalau nggak laku, maka produk ini akan saya jual ke teman saya dengan harga HPP dengan skema boleh ambil sedikit sedikit.

Contoh lain lagi: kalau nggak laku, maka produk saya ini akan saya bagikan ke panti asuhan dan mohon doa dari anak-anak yatim agar dagangan saya berikutnya diberikan Allah kemudahan.

Kira-kira ini saja dulu Postingan dari saya (Army Alghifari), semoga memberikan manfaat untuk Anda.

Besok – besok, Postingan akan dilanjutkan oleh si Agan Khalid kembali.

 

SUKA Postingan ini? 😉
Kemungkinan besar, Sobat  juga suka:
→ KK Premium.