Insight Penting Hasil Correlation Analysis dan Regressio Toko Online Lokal

Insight Penting Hasil Correlation Analysis dan Regressio Toko Online Lokal

Sore ini kami iseng-iseng melakukan penelitian. Dari hasil correlation analysis dan regression untuk data bulan Juni 2019 sebuah toko online tertentu, kami mendapatkan insight penting:

  1. Ketika BUDGET dinaikkan sebesar 100%, maka CPL akan mengalami kenaikan sebesar 130% dengan “confidence interval” (tingkat kepercayaan) sebesar 99%.
  2. Ketika CPL naik sebesar 100%, maka Conversion Rate (CR) akan mengalami kenaikan sebesar 70%, dengan tingkat kepercayaan 99%.
  3. Uniknya, dari hasil analisa regresi, tidak ditemukan adanya hubungan antara BUDGET dengan CR.
  4. Hubungan antara CR dan CPL sangat kuat, yang ditunjukkan dengan ketika kami menukar variabel dependen dan independen (CR dan CPL) masih kuat pada tingkat kepercayaan 99%.
  5. Meski correlation isn’t always causation, dalam relasi antara CR dan CPL ditemukan bahwa mereka saling berkorelasi kuat yang mana hal ini berpotensi memiliki hubungan kausal; dan intuisi kami mengarah kesana.

Nb:

  • Penelitian diselenggarakan oleh Business Intelligence Team Woimedia.
  • Ilustrasi data dalam gambar dibawah ini telah kami normalisasi biar saya nggak ketauan kalau boncos 😂.

 

Mau lihat gambar yang lebih jelasnya: https://prnt.sc/15kezp2

 

Perbedaan 4 Bidding Strategy Facebook ads

Perbedaan 4 Bidding Strategy Facebook ads

Lowest cost

Ini adalah strategi jika kita ingin FB meng-optimisasi campaign kita agar mendapat konversi semurah mungkin.

Relatif terhadap keberhasilan algoritma campaign itu mencapai derajat “sukses” spesifik di hari itu.

Artinya apa? Bisa jadi lowest cost hari ini, beda dengan besok, dan beda lagi dengan besoknya.

Contoh. Misalkan kita pasang budget 100.000 maka akan ada kemungkinan kita menghabiskan budget tanpa hasil leads sama sekali.

Lowest cost with bid cap

Ini mirip dengan strategi pertama, hanya saja kita memberikan batasan bid yang bisa dilakukan oleh FB terhadap campaign kita.

Kita tahu bahwa ada perbedaan mendasar antara budget, bid, dan cost. Budget adalah ruang kantong kita, seberapa mampu duit yang mau kita bayar. Bid adalah ruang DEAL kita dengan fb. Sedangkan cost adalah HASIL DEAL. Bab ini termasuk salah satu materi inti di Kelas Konversi.

Misalkan bid kita 100.000, maka FB akan memasang bid berapapun sampai maksimal 100.000; yang mana artinya cost kita akan memiliki kemungkinan 95% dibawah 100.000 (pada fase after learning).

Target cost

Kalau dua strategi diatas bicara tentang bid, maka kali ini kita bicara tentang cost. Target cost sudah menggunakan teknologi FB lebih advanced dalam memprediksi cost yang akan terjadi di dalam campaign kita. FB akan melakukan serangkaian prediksi BID tertentu untuk menghasilkan COST tertentu dari konversi yang masuk, yang mana prediksi ini ya bisa ada kemungkinan boncos.

Misalkan ada kesempatan FB untuk mendapatkan 20.000 per leads, maka dia TIDAK AKAN MENGAMBIL INI jika target cost kita adalah 100.000 per leads.

Cost cap

Ini juga advanced. Prediksi yang dilakukan FB akan diberi ruang lebih bebas untuk menentukan bid, yang mana kebebasan itu tetap diberi batasan cost.

Misalkan ada kesempatan FB untuk mendapatkan cost 20.000 per leads, maka dia akan ambil jika kita pasang cost cap 100.000 per leads.

====

Mana yang terbaik? Kalau ketemu paku, maka kita gunakan palu. Kalau ketemu sekrup, maka kita gunakan obeng 👍

Better Plan, Manajemen Resiko, Excellent Execution di FB Ads

Better Plan, Manajemen Resiko, Excellent Execution di FB Ads

BETTER PLAN

Jadi gini, sebelum kita ngiklan, kita sudah harus tau proyeksi yang akan terjadi di dalam iklan kita. Simulasi lah. Planning. Perencanaan. Mau dapat cost berapa, dsb. Kebanyakan orang yang saya temui, nggak punya rencana ini.

Nah perhitungan ini, harus dibandingkan dengan kondisi toko online Anda. Sebenarnya untung berapa sih? REAL nya. Setelah dikurangi ini dan itu. Perencanaan ini harus matang, supaya Anda bener-bener bisa beli rumah dari bisnis online. Bukan cuma beli rumah-rumahan lego. Untuk itu, Anda bisa cek di materi k*iller pricing. Saya sudah membedah disana.

Buat target sederhana, misal: bagaimana caranya spent 1M sehingga saya dapat 1M bersih. Berapa saya harus jual barangnya? Berapa leads yang harus diperoleh? Berapa CS yang harus ada? Berapa saya harus kulakan? Berapa pajak yang harus dibayar? Dst.

Setelah perencanaannya matang, barulah Anda jalankan iklannya. Ini pun dijalankan dengan strategi. Untuk memanajemen resiko.

MANAJEMEN RESIKO

Pertanyaan kuncinya: “Jika terjadi hal buruk, apa yang akan saya lakukan?”

Beberap mitigasi resiko yang bisa dilakukan di dashboard FB ads adalah dengan:

1. Mengatur keseimbangan antara strategi bid dengan budget. Ini hanya bisa dilakukan kalau kita tau filosofi setiap bid itu maksudnya apa. Secara sadar tau, bagaimana cara kerja masing-masing bid. Saya paling senang bekerja dengan lowest cost with bid cap. Tapi saya juga nggak anti dengan strategi bid yang lain, apalagi cost cap; sebuah strategi bid “masa depan” yang terus disempurnakan facebook.

2. Menggunakan rules. Yang terpenting dari rules adalah Anda tau kapan Anda harus mematikan dan menyalakan iklan. Itu dulu. Sampai perfect terhadap market Anda.

Ini bukan hal yang sepele. Anggaplah Anda punya 30 campaign. Yang untung ada 3, tapi 27 lainnya boncos. Apakah nutup untungnya?

Misal pakai 1 campaign saja, iya kalau untung. Kalau nggak spent? Masak CS nganggur?

Nah, bagaimana mengakomodasi ini sehingga iklan kita masih bisa tetap untung? Jawabannya: Anda musti betul-betul paham key metrics di toko Anda.

✅ Berapa angka lazim CPC

✅ Berapa angka lazim konversi tiap event

✅ Berapa angka konversi lazim sales Anda

✅ dst.

Bab ini bisa diajarkan prinsip-prinsip intinya oleh orang lain, tapi sampai menerapkan di toko Anda, ini penuh dengan kesendirian. Anda nggak bisa berharap orang lain tau bagaimana Anda mengatur rules di toko Anda sendiri. Ini PR Anda. Cuma Anda yang bisa ngerjain.

Strategi lainnya yang diluar dashboard Facebook ads adalah dengan memperluas channel distribusi Anda agar resiko Anda juga terdistribusi. Kata Warren Buffet, “don’t put all your eggs in one basket”.

Alih-alih hanya dengan Facebook ads dan direct ke konsumen, Anda bisa mulai mencoba offline.

Contoh: buka booth di mall, biayanya 10 juta per bulan. Dapat exposure misal 50.000 orang. Anggaplah ini CPM Rp 200.000. Mahal ya? Bisa jadi. Tapi konversinya tinggi lho di mall. Terapkan yang sama seperti Anda menggunakan materi Focus on Ads untuk menganalisanya.

EXCELLENT EXECUTION

Kata Helmuth von Moltke, “No battle plan survived first contact with the enemy”. Artinya, nggak ada rencana perang yang sukses pada perjumpaan pertama dengan musuh. Pasti keteteran. Kelabakan.

Oleh karena itu, berdamailah. Dalam facebook ads ada yang namanya data training. Ini harus Anda pahami, karena semakin kesini demand Facebook ads terhadap data makin tinggi. Perilaku konsumen online makin “senyap”.

Pada masa-masa data training & eksekusi ini, semua ada di dalam war mode. Jenderal sering ikut turun sementara. Memompa semangat tim. Situasi perang. Jam berapapun, online. Do whatever it takes. Ada yang mengistilahkan dengan zona take-off, critical eleven, etc. Esensinya: bersiap menghadapi segala kemungkinan. Siap berubah, meninjau ulang strategi, merombak taktik, dsb.

Begitu medan sudah dikuasai, turbulensi sudah terlewati, masa genting sudah usai, cost per lead sudah tercapai, budget sudah dikeluarkan dengan optimal, CS sudah mulai makan dan kenyang, baru jenderal mulai makan.

Hanya dengan cara inilah Anda bisa melakukan scaling “besar-besaran”. Saya menyebutnya scientific scaling. Scaling yang terukur. Terencana.

Bukan scaling gaya-gayaan. Scaling gaya-gayaan: spend gede, tapi pas diitung beneran, hasilnya negative cashflow.

Jangan terintimidasi dengan budget iklan orang lain. Hidup masih lama. Masih ada hari esok. Yang penting perencanaan Anda terealisasi. Karena “besar” menurut Anda belum tentu sama dengan orang lain. Jadi temukan definisi berlimpah kita sendiri.

Sebagian orang budget 10 juta sudah besar. Sebagian 1M masih kecil, karena ada ratusan mulut yang harus dikasih makan setiap hari. Kalau kita mulai menggunakan definisi orang lain di bisnis kita, yang ada malah jadi kurang bersyukur, terbawa arus malah boncos. Ingat bahwa selalu ada hal-hal yang kita nggak tau kalau kita nggak tau. Just give a f*uck dengan standar-standar orang lain.

Yang terpenting itu bukan Anda mendapatkan uang banyak, tapi mendapatkan sebuah proven plan yang bisa Anda ulang-ulang terus. Kalau Anda tidak tau kenapa toko Anda bisa untung, ini bahaya. Para ahli bilangnya beginner luck. Kondisi ini nggak akan lama, dan akan malah menjatuhkan Anda ke jurang terdalam. Proven plan akan “menjamin” Anda masih bisa ngasih makan untuk tim inti Anda.

Udah ah, kayaknya kepanjangan. Nanti kapan-kapan saya share lagi lanjutannya 😁

Produk Herbal, Harga Taroh di Landing Page?

Produk Herbal, Harga Taroh di Landing Page?

“ketika menjual produk minuman herbal yang membutuhkan penjelasan produk dahulu ke lead, apakah harga produk disebutkan di SP?

“atau tidak disebutkan agar lead bisa chat WA langsung menanyakan harganya?”

Pertanyaan diatas datang dari pembeli mini course Finishing Sales Page.

Baca penjelasan dan jawaban saya dibawah ini:

Harga WAJIB ditampilkan di sales page (SP).

Yang gak butuh penjelasan aja, wajib cantumin harga. Apalagi produk yang butuh penjelasan! Wajib buangetttt.

Kenapa wajib? Untuk filter.

Pernah lihat gak iklan perumahan/cluster/apartemen gitu, gak nyantumin harga?

Kemungkinan: Gak pernah.

Kenapa? Karena itu adalah filter mereka.

Setiap orang yang dateng & minat sama perumahan yang mereka jual, akan banyak tanya jawabnya.

Banyak effort (waktu & tenaga) yang harus dikerahkan, hanya untuk menjelaskan tentang produknya (perumahan tsb) ke leads yang datang.

Belom closing loh itu. Baru ngelayanin doang.

Bisa kebayang gak, kalo udah jelas – jelas banget bakalan keluar effort banyak, tapi yang dateng kemampuan orangnya gak kefilter gitu?

Misalkan yang dijual adalah perumahan harga 1M. Tapi yang dateng orang dengan kemampuan beli rumah di sekitar 100 juta saja.

Capek gak? Capek lah. Banget.

Jadi: Adanya harga di banner – banner, itu untuk FILTER. Biar gak repot buanget – buanget dalam melayani leads yang masuk.

Begitu juga dengan toko online Anda.

Kalau Anda gak melakukan filter, maka yang dateng akan random banget kemampuan yg belinya.

Anda akan kekuras habissss buat ngeladeninnya.

Bahkan nih ya, kadang yang kemampuannya gak ada, justru malahan lebih ngabisin effort buat ngeladeninnya. Ngenes banget gak tuh?

Ngabisin waktu, & tenaga kita, tapi kagak beli 😀

“Kan tapinya kita jadi melakukan list building Gan”.

Oke, kalau niatnya melakukan list building, yowes. Gak papa.

Cuman mau make sure aja saya mah, kalau emang niatnya melakukan list building, ya musti beneran di follow up atau di upselling dengan barang yang lain ya.

Jangan cuman dikumpulin gitu aja.

Misalkan list buildingnya make email, ya make sure bahwa Anda rutin ngirimin email kepada mereka. Bikin autorespondernya.

Kalau cuman ngumpulin doang, tapi gak ngejalin hubungan mah, buat apa?!

Kalau mau bikin autoresponder di WA. Atau minimal sekedar rutin broadcast produk – produk Anda yang lain, ya jangan lupa makenya: WASeru (😌).

“Ya gak papa. Toh CS saya ini yang ngelayanin Gan”.

Ye!

Lu gak mau ngelayanin karena tau effortnya gede banget.

Tapi ke CS elu, lu bodo amat.

Innnni nih penyebab lama – lama CS lu resign.

Kalau CSnya digaji tetap, OK lah.

Lah kalau CSnya digaji based on closingan, ya dia mangkel lah.

Ngelayaninnnya lama. Yang dilayanin banyak banget pula. Hasilnya dia dapetnya dikit banget (karena closingannya sedikit. Karena random banget yang dateng).

Kesimpulan:

  • Harga di sales page, menurut Agan Khalid: WAJIB. Based on pengalaman. Apalagi kalau produknya butuh penjelasan!
  • Biar terjadi filtering. Filtering biar gak capek. Kebaikan buat Anda yg masih single fighter. Ataupun demi kebaikan CS kita.
Jualan Sayur lewat Fb Ads

Jualan Sayur lewat Fb Ads

“Klo menurut Agan, apa produk komoditi gak perlu pakai Ads ya??”

 

 

  • Kalau definisi “komoditi” adalah barang sehari – hari, maka jawaban saya adalah: Bisa tetep perlu – perlu aja sih.
  • Kalau definisi “komiditi” adalah barang yang ngambil untungnya sedikit, jawaban saya adalah: Tergantung.

“Tergantung gimana gan?” 

Kalau ngambil untungnya sedikit, tapi berkelanjutan, maka jawaban saya: Tetep gak papa ngiklan.

ASALKAN 1 hal!

ASALKAN: Anda kuat “nafas” (kuat modal) di awal – awal perputaran.

—–

Contoh 1 (saya pribadi):

Saya punya bisnis SAAS yang bernama WASeru. Tool untuk bisa melakukan broadcast massal & juga autoresponder kayak email marketing (tapi di WhatsApp).

Cost per acquisition buyernya, sekitar 75 ribu. Per pembeli. Harga paketnya (saat Postingan ini ditulis) ada di 200 ribu.

Dipotong biaya dan lain sebagainya, hanya menyisakan 75 Ribuan.

Apakah untung gede? Enggak juga bagi saya.

Tapiiiii setelah dijalankan selama 3 bulan pertama, tingkat recurringnya (repeat ordernya), sekitar 30%.

Dalam artian: Misalkan ada 10 buyer baru. Di bulan depannya, dari 10 orang itu, 3 orangnya akan jadi pelanggan setia.

Nah saya musti kuat nafas untuk “menafkahi” bisnis ini di 3 bulan pertama, sampe uangnya cukup buat nutup iklan di perjalanannya.

Dan kebetulan, saya kuat “nafas”nya di awal – awal perputaran.

—–

Contoh 2 (anak KK Premium):

Ada yang jualan kaos kaki. Kaos kakinya saya gak bisa jabarkan lebih detail ya. Gak enak. Privasi orang.

Intinya, dia per pembelian, cuman untung 5 ribu-an.

Tapi yang beli, RATA – RATA setelah menerima kaos kaki pertamanya, 50-70%an akan langsung beli sekitar 5-10 kaos kaki sekaligus.

Dan dari situlah dia baru “menang banyak”-nya.

—–

Case dia diatas, diambil dari testimoni yang dia berikan buat KK.

Biasa jualan di marketplace,
produk sendiri margin 5 ribuan. 
 
Ini sih baru jualan 80 produk,
sebenarnya sku sih ada 150-an. 
Cuma pada abis produknya.

 

Ini yang beli sekali borongan,
yang wa belum kehitung,
yang beli lewat web terus repeat order
via wa juga belum dihitung.

Awalnya sih ngga nyangka dapat
traffic segini sebelum join KK.

Kesimpulan:

  • Kalau sudah ngambil untungnya sedikit, terus produknya gak jamin bakalan berulang dibeli terus – terusan,
  • Atau gak bakalan dibeli dalam jumlah banyak sehabis itu (bundling misalnya),
  • Yaaaaaaaaa kalau kejadiannya kayak begitu: Nah bener tuh, gak usah diiklanin sebaiknya.
  • Gak bakalan nutup soalnya.
  • Karena kan kalo ngiklan di FB Ads, yang jelas bukan kayak jualan lewat organik (SEO)!
  • Bukan juga kayak jualan di pinggir jalan (yang gak ada sama sekali keluar biaya untuk akusisi buyer)!

—–

Jadi?

Apakah jualan barang seperti yg ada di website diatas, perlu (atau layakkah) diiklankan menggunakan FB Ads?

Jawabannya silahkan direnungkan sendiri 🙂

Jualan Mobil Lewat FB Ads

Jualan Mobil Lewat FB Ads

“cara nentuin audience yg tepat di fb ads?”
“jualan ane mobil baru”
“kalau salah audience bisa2 dikomen sama bocah2 doang😂”

 

Pertama:

Kegiatan berbelanja itu 80% karena psikologi. Ya, untuk harga murah.

Misalkan istri kita/pacar kita, ngeliat barang gak jelas tapi lucu, bisa hanya karena: “ih lucuuuu”, dibeli tuh barang. Iya, karena cuman “ih lucu” doang, dibeli. Tapi itu kan harganya murah.

Coba kalau barangnya “ih lucu” tapi harganya 1 milyar. Gak segampang itu juga dibeli. Alias: Balik lagi ke nalar yang ambil alih. Hilang tuh si 80% pembelian karena psikologi tadi.

Paham sampai sini? Lanjut.

Kedua: 

Pembelian barang kalau dari funnelnya, kayak olahraga. Ada yang bisa langsung sama gak bisa langsung.

kalau cuman mau lari – lari sih, ya udah langsung aja. Gak usah pemanasan. Tapi kalau sudah yang berat, misalkan angkat beban, wrestling, ya itu sebelumnya harus olahraga, kalau gak bisa keram, cedera.

Jualan barang juga gitu. Ada yang bisa langsung sama gak bisa laangsung (dipelihara kehangatan rasa ingin membeli barang tsb).

Maksudnya gimana nih yang langsung sama yang jangan langsung.

Gini:

Langsung:

  1. Iklan
  2. Landing Page
  3. Jadi leads (WA/Form)
  4. Follow Up 1-5X
  5. Beli

Gak Langsung (Pemeliharaan intensive):

  1. Iklan
  2. Landing Page
  3. Jadi subscribers (WA/Email)
  4. JUALANNYA ya lewat serangkaian Follow Upnya (autoresponder)

Tool untuk bikin autoresponder:

  • Email (BigMailer, Aweber, GetResponse, dll)
  • WhatsApp (WASeru)

Ketiga:

Ada tipikal barang yg belom disadari dibutuhkan sama orangnya.

Contoh: Kita gak ingin bakso.

Tapi pas denger “ting ting ting”-nya abang bakso, bisa jadi pengen mendadak beli tuh!

Ada tipikal barang yang yaaaaa barangnya sudah sadar diingin oleh orangnya!

Contoh: Obat ambien. Itu tipe barang yang yaaaaaaaaaa gak karena ada abang – abang teriak: “ambien ambiennn”, kita jadi mendadak pengen beli obat ambien kan?

Obat ambien akan diketikkan sendiri oleh orang yang sudah disadari dibutuhkan oleh orang tersebut. Di Google.

Balik ke case:

Jualan mobil di Fb Ads.

  1.  Apakah mobil harganya murah? Yang kalo karena lucu/keren/awesome, jadi bisa mendadak klik WA terus langsung beli?
  2. Apakah kalaupun mau jualan mobil, metodenya langsung jualan aja gitu? Atau butuh autoresponder entah lewat email atau minimal WA?
  3. Apakah orang secara sadar memang ingin membeli mobil? Kalau iya, perhatikan, apakah orang yang sadar tersebut langsung ke google, langsung ke showroom, atau langsung buka FB?

Kalau 3 hal diatas, sudah beres, baru deh kita ngomongin tentang riset audience.

Tipe Bidding #3: Bid Cap (PALING Favorit di KK)

Tipe Bidding #3: Bid Cap (PALING Favorit di KK)

Kita lanjutkan postingan kemaren ya 🙂

Tipe Bidding #3:

Bid Cap

Bid cap, dipakai ketika: INGIN ngeruk, sengeruk – ngeruknya!

Karakternya: Nguras habissss di harga terendah.

Kita pakai contoh kejadian sehari – hari ya, untuk menggambarkannya.

Anda pernah naik sepeda? Pernah nyetir mobil? Atau nyetir motor deh.

Kalau lagi ngerem kan, sebenernya kebagi 2 kan ya:

  1. Ngerem aja
  2. Ngerem banget!

Bener gak?

Nah kalo cost cap (tipe bidding #2 yang dibahas postingan kemaren) adalah tipe ngerem aja.

Ngerem, tapi yaaaa pelan.

Ngerem pelan efeknya? Ya kadang pas. Kadang kelewat.

Kalau Bid Cap? Nah ini!

Tipe ngerem banget!

Ibarat katanya nih, jeglukan (polisi tidur) masih 10 meter lagi, Anda udah ngerem dari jauh!

Begitulah si Bid Cap ini.

Kalau iklannya kira – kira gak sesuai target (anggaplah 10K per ATC), ketika diliat sama si A, maka iklan itu gak akan dilempar sama FB ke depan matanya si A.

Jadi kalau make Bid Cap enaknya buat apa? Untuk orang yang parnoan. Maunya iklannya gak boleh meleset mahal sedikitpun. Parnoan orangnya 😀

Itu makenya Bid Cap.

Cocok juga yang mungkin marginnya udah tipis banget. Yang kalau kelewat, malahan jadi boncos.

Pertanyaan yang mungkin timbul:

“Kalau gitu, semua orang makenya Bid Cap aja!”

Yaudah pake aja gih. Wkwkwkwkw.

Gak semudah itu alfonsoooo.

Ada hitung – hitungan yang harus dipikirin dulu, kalau mau gunain tipe bidding yang Bid Cap ini.

Hitung – hitungannya gimana, yaaaaaaa itu dipelajarinnya di KK Premium.

KK Premium, materi ke 5.

Kalau gak punya uang untuk masuk KK Premium?

Tetap bisa kok dapet indahnya manual bid. Yaitu dengan ngulik sendiri 🙂

Tipe Bidding #2: Cost Cap

Tipe Bidding #2: Cost Cap

Kita lanjutkan postingan kemaren ya 🙂

Tipe Bidding #2:

Cost Cap

Cost cap digunakan, ketika: Sudah tau iklan kita bisa dapet diharga misalkan 10K per ATC.

Dan kita maunya segede apapun budget kita, kalau bisa hasilnya berkisar tetep di segitu – segitu aja. Di tetap sekitar 10K-10K aja.

Nah, itu bisa tuh mulai make cost cap.

Untuk mewujudkan keinginan tsb.

Pertanyaan yg timbul:

  1. Ngisinya berapa? Hitung – hitungannya gimana?
  2. Mulai berubahnya kapan sih?
  3. Saat yg tepat untuk bisa mulai gunain Cost Cap, gimana?

Silahkan dikulik sendiri.

Akan harus menguras duit, tenaga, & uang? Oia tentu saja.

Tapi kalau Anda gak mau ngulik, ya selamanya Anda akan ada di tipe bidding default (lowest cost).

Dimana begitu dinaikkin budgetnya, langsung tiba – tiba jadi mahal biayanya. Ambyarrr.

Kalau gak mau ngulik, tapi mau mulai menikmati indahnya tipe bidding Cost Cap, bisa?

Oooo tentu bisa!

Pelajari di KK Premium.

Wkwkwkw (jualan).

Di KK Premium kan ada 3 mentor tuh. Nah ada 1 yg make tipe bidding cost cap ini. Yaitu saya sendiri (Agan Khalid).

Kalau 2 mentor lainnya, sukanya make yang “Bid Cap”.

Kenapa emang Bid Cap? Kelebihannya apaan, dibandingkan yang Cost Cap? Kekurangannya apaan?

Itu semua dibahasnya di postingan ini: Tipe Bidding #3: Bid Cap.

Tipe Bidding #1: Lowest Cost

Tipe Bidding #1: Lowest Cost

Saat postingan ini diketik, ada 3 tipe bidding. Tadinya ada 4.

Tipe Bidding #1:

Lowest Cost

Kalau kita masang iklan di FB Ads, & gak ngerubah apapun di penyettingan bidding, kita tuh lagi gunain tipe bidding “lowest cost”.

Secara default, para advertiser tuh gunainnya lowest cost ini.

KARAKTER: Berapapun budget yang Anda pasang, akan dihabiskan sama si FB.

PENGGUNAAN: Ketika sedang ingin split test. Entah split test foto, landing page, video, thumbnail video, headline, ad copy, dll.

POKOKNYA kalau masih berbau ada yg lagi mau diliat winning – winningan mana, nah pakenya adalah tipe bidding “lowest cost”.

SALAH KAPRAH 1:

Ketika iklan dalam sebuah campagin gak tersebar merata, terus malahan bertanya – tanya alasannya kenapa.

Gak kesebar dengan merata, karena Fb hanya mau ngabisin iklan ke iklan – iklan yang dirasa FB akan memberikan hasil maksimal.

Makanya lowest cost ini pas banget untuk yang lagi mau split test – split test an.

Cek dialog saya dengan salah satu penanya di postingan. Tungguin loadingnya ya. Ada 3 foto soalnya.

SALAH KAPRAH 2:

Salah kaprah keduaa: Tipe bidding “lowest cost” ini malahan seringnya dipake buat scale up.

Padahal tipe bidding “lowest cost” ini dipake ya untuk kebutuhan split test. Dan dengan budget minim.

Kalau pake lowest cost, terus budgetnya digedein? Ambyar!

Kalau Anda sudah pernah ngiklan & sudah pernah winning, terus pas Anda gedein budgetnya, eh hasilnya malahan jelek, nah itu yg saya maksud.

Tipe bidding lowest cost memang bukan untuk scale up.

Kalau sudah winning & mau hasilnya tetep stabil, itu nanti musti gunainnya adalah tipe bidding yang kedua atau yang ketiga.

Pembahasan tipe Bid 2 disini: Tipe Bidding #2: Cost Cap.

Bagusan, make CBO atau Non CBO?

Bagusan, make CBO atau Non CBO?

Catatan 1:

Tulisan ini, adalah salah satu materi di KK Premium.

Tapi saya bagikan, karena saya rasa Sobat bisa mendapatkan manfaatnya juga.

Catatan 2:

Kalau Sobat belom pernah menjalankan FB Ads sama sekali, sebaiknya Sobat langsung close saja Postingan ini. Hemat waktu Anda.

Karena kemungkinan besar, Anda gak akan ngerti sama yang saya bahas di Postingan ini 😀

Saya langsung copas ya.
Sip.

Kalau Anda memperhatikan, saya membuat beberapa materi tentang split testing.

Salah satunya menggunakan CBO, ada yang menggunakan non CBO.

CBO = Campaign Budget Optimization. Ini adalah fitur dari Facebook ads untuk mengoptimalkan penyerapan budget iklan kita terhadap semua adset dan ads yang sudah kita buat.

Dengan kata lain, jika iklan kita menggunakan CBO, maka kita sangat percaya kepada FB bahwa mereka akan menempatkan iklan kita kepada audience yang tepat, sesuai dengan porsi ketertarikannya.

Yang paling tepat, akan diberi ruang yang lebih banyak.

Sedangkan non CBO, kadar kepercayaan kita kepada FB agak dikurangi, dan kita meminta FB untuk “udah deh abisin aja budget di adset X, gak usah banyak mikir”.

Yang mas Army gunakan, yang mana?

Saya pribadi sudah 100% menggunakan CBO dalam semua fase, baik split testing, menentukan angle, hingga scaling up.

Saya tidak pernah lagi menggunakan non CBO.

Alasan saya: kesederhanaan.

Saat Anda sudah harus menghabiskan budget campaign yang sangat besar, kesederhanaan kerja itu penting, agar tim tetap bisa hidup sehat dan bugar.

Tapi strategi ini diikuti dengan strategi lain yang juga sudah saya “buatkan” untuk Anda di KK: bermain dengan adset yang tidak terlalu banyak.

Anda tidak bisa bermain dengan terlalu banyak adset saat memainkan strategi CBO.

Kalaupun Anda paksa, FB ads akan secara otomatis memilihkan sekitar hanya 4-6 adset saja yang dioptimisasi (konsekuensi algoritma muti-arm bandit yang diterapkan oleh FB).

Oleh sebab itu, saat ini saya suka bermain dengan 4-6 adset saja; ketimbang bermain dengan banyak adset.

Kalau Anda surfing di kelas kita, kemudian menemui ada materi saat saya memainkan banyak adset, maka kemungkinan besar itu adalah fase saat saya masih menggunakan non CBO.

Dulu saya suka bermain banyak adset. Per campaign bisa 20-30 adset. Kadang ada yang duplicate.

Strategi itu masih bisa digunakan (mungkin sebentar lagi sudah tidak bisa saat FB resmi merilis pembatasan jumlah ads).

Tapi konsekuensinya:

  • Pikiran Anda akan terasa penuh
  • Rules Anda harus complicated
  • Anda akan sering menemui anomali hasil
  • Tim Anda akan exhausted, kelelahan
  • Fokus Anda berubah yang tadinya fokus memikirkan produk dan materi ads yang menarik dan appealing untuk customer, jadi terlalu teknis

Lalu kenapa ada materi split testing non-CBO mas?

Sebetulnya saat ini pada saat budget Anda kecil, pilihan CBO vs non-CBO tidak terlalu banyak berpengaruh selama Anda menggunakan jumlah adset yang sama-sama sedikit.

Kalau Anda memilih non-CBO artinya Anda memilih untuk memastikan apakah memang adset tertentu benar-benar busuk tanpa ada intervensi dari FB.

Sedangkan kalau Anda memilih CBO, Anda memilih dibantu oleh FB untuk memilih adset mana yang kemungkinan besar layak diteruskan.

Awal CBO muncul, algoritma FB masih buruk. Penempatannya kacau dan amat sangat volatile.

Saya putuskan waktu itu menggunakan non-CBO untuk split testing; tidak terlalu mengandalkan FB di masa split testing.

Saat ini, CBO sudah sangat bagus dan membantu. Maka sekarang saya putuskan untuk “percaya aja deh sama FB”.

Strategi non-CBO ini hanya digunakan saat split testing, saat budget Anda kecil.

Sedangkan saat Anda sudah memutuskan untuk menaikkan budget dan percaya diri bahwa produk dan iklan Anda sudah di titik yang memuaskan dan layak dikonsumsi orang lebih banyak, maka strategi yang tepat dan nyaman digunakan adalah CBO.

Kesimpulannnya:

  • Saat split testing, CBO atau non-CBO tidak untuk diperdebatkan. Silakan gunakan yang manapun yang menurut Anda nyaman.
  • Saat scaling up, saya sarankan pindahkan ke CBO semua, demi memudahkan kerja dan kesederhanaan. Bagi yang switch dari non-CBO ke CBO akan melihat sedikit “guncangan” di beberapa hari awal, tapi lambat laun FB akan berpikir sendiri dan memberikan hasil yang terbaik untuk kita.